read more story

Sabar itu (pasti) Buahnya Manis

Libur Idul Adha tahun ini memang spesial. Jatuh di hari selasa dan pemerintah memutuskan hari senin sebagai libur cuti bersama. Artinya terdapat libur 4 hari dari hari sabtu – selasa. Yey, saya senang dan memutuskan untuk mudik ke kebumen.

Saya mudik menggunakan kereta prameks dari stasiun Lempuyangan Jogja menuju stasiun Kutoarjo. Selama perjalanan, saya ditemani vika (adek dari sahabat sekaligus teman kost saya-nabil-). Ramai sekali dan kereta penuh sesak. Maklum saja long week end dan bertepatan dengan hari raya idul adha pasti banyak sekali yang ingin mudik untuk merayakan idul adha di kampung halaman. Saya dan vika berada di gerbang khusus wanita. Sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada kami. Gerbong yang penuh sesak membuat kami dan penumpang lainnya tidak mendapatkan tempat duduk. Bahkan duduk dibawah pun penuh sesak.  Perjalanan selama satu jam lima belas menit sampailah kita di stasiun Kutoarjo sekitar pukul 18.46. Setiba di stasiun lempuyangan, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dari stasiun ke perempatan terminal untuk naik bua. Tidak terlalu jauh jaraknya antara stasiun dan perempatan terminal, cukup berjalan kaki 5 menit sampailah kami untuk menunggu bus.

Saya, Vika, dan penumpang prameks lainnya menunggu bus di pinggir perempatan. Lima menit menunggu, datanglah Bus Mulyo dan semua orang berebut naik. Penuhhhhh sekali. Sudah terbayang naik bus berdiri dan penuh sesak pasti sangat tidak nyaman. Bus yang sudah tidak layak disebut sebagai bus dan penuhnya penumpang membuat kami dan beberapa penumpang lainnya memutuskan untuk menunggu datangnya Bus kedua.

Tik tok tik tok. . . 5 menit
Tik tok tik tok. . . 10 menit
Tik tok tik tok. . . 15 menit
Menunggu 15 menit terasa 30 menit saja. .

Dan senyum di wajah kami mengembang ketika datang bus Prayogo. Wuzzz, busnya berhenti di depan kami tetapi pintu bus tidak kunjung dibuka.
 Saling pandang dengan vika dan aku berkata “Vi, ini bisnya gimana sih? Berhenti tapi kok gag mau buka pintu!”

Vika jawab “Iya ya mbak, PHP banget deh”

Tiba – tiba ada seorang bapak berkata sama kondekturnya “Udah pak, diangkut aja! Kasian terus sayang juga banyak yang mau numpang.”

Beberapa menit sang kondektur berdiskusi dengan sopir dan akhirnya pintu Bus dibuka dan kita berdua masuk ke dalam bus dan duduk di bangku nomor dua dari depan. Alhamdulillah, bisa duduk dan nyaman plus AC. Oh, mungkin ini juga alasan kenapa sampai lama baru memutuskan mengangkut penumpang. Harusnya pakai tiket ya kalau mau naik bus AC ini dan biasanya bus seperti ini memang tidak menerima angkut penumpang di pinggir jalan seperti bus ekonomi. Alhamdulillah, sopir dan kondekturnya baik. Tanpa beli tiket bisa naik dan duduk pula. Fyuh, leganya. .

Saya “Vi, untung ya Vi kita gag naik bis tadi. Udah ngebayangin pasti berdiri trus penuh banget. Ah, sabar emang buahnya manis ya vi!”
Vika “Iya ya mbak, ternyata sabar buahnya gag cuma manis di kehidupan tapi juga berlaku pas nungguin bis.”

Dan saya jadi merenungi kata2 Vika, bener juga. Sering sekali kita mengeluh dan lupa bersyukur. Mengeluh atas segala kondisi yang menurut kita buruk dan lupa mensyukuri segala nikmat. Tidak sabar, padahal Allah sedang menyiapkan segala hal yang lebih baik untuk kita. Saya sering mengeluh ketika saya sudah merasa sabar tapi masalah tak kunjung terselesaikan. Ah, saya sungguh salah. Sabar 15 menit ternyata dapat bis yang lebih nyaman dan dapat tempat duduk. Kalau saya bisa lebih sabar lagi dalam hal lain, pasti buahnya akan jauh lebih manis dari sekedar dapat bus nyaman dan dapat tempat duduk.

Kondektur datang, saya dan vika membayar dengan tarif seperti saya naik bus ekonomi biasa, lima ribu rupiah. Senyum kami melebar lagi karena pak kondektur tidak meminta tambahan tarif. Alhamdulillah. .

Dan saya sampai di Kedungbener Kebumen tepat di belakang Bus Mulyo tadi. Ah, saya tambah bersyukur. Sabar itu emang manis dan gag bakalan rugi.


Sepenggal cerita, hikmah mudik Idul Adha tahun ini J

Comments